Sopan Santun kepada Lawan atau Musuh

Sopan Santun kepada Lawan atau Musuh

Friday, Jun 23, 2017 MQS CORNER
  • Tuntunan dasar dalam menghadapi musuh atau lawan adalah: bersikap adil.
  • Gunting lidahnya dan belenggu tangannya dengan hadiah Anda.

Islam tetap mengajarkan etika bahkan untuk menghadapi atau menyikapi musuh dan lawan.

Musuh adalah ia yang bermaksud/berusaha menjatuhkan mudarat bagi Anda. Dalam konteks menghadapi lawan/musuh, norma utamanya tidak berbeda dengan objek-objek lainnya, yakni “adil/menempatkan segala sesuatu pada tempatnya”. Jika musuh Anda manusia, tempatkanlah ia sebagai manusia. Karena itu, jangan musuhi kemanusiaannya, tetapi musuhilah perbuatannya.

Secara tegas, Allah SWT., memerintahkan untuk berlaku adil kepada semua pihak, janganlah kebencian kamu terhadap satu kaum menajadikan kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah! Demikian pesan-Nya dalam Q.S. al-Ma’idah ayat 8.

Langkah pertama dalam berinteraksi dengan lawan adalah mencari celah agar tercapai perdamaian walau yang bersifat pasif. Dalam Q.S. al-A’raf ayat 199, Allah berpesan kepada Nabi SAW., dengan tiga pesan.

Pertama, ambillah maaf, yakni pilihlah pemaafan dalam interaksimu dengan yang bersalah, hiasilah diri dengannya, jangan memilih lawan pemaafan atau jangan menuntut dari orang lain suatu perlakuan yang sulit mereka lakukan. Terimalah dengan tulus apa yang mudah mereka lakukan, jangan menuntut terlalu banyak atau yang sempurna sehingga memberatkan mereka agar mereka tidak antipati dan menjauhimu. Dan hendaklah engkau selalu bersikap lemah lembut serta memaafkan kesalahan dan kekurangan mereka.

Dalam keseharian, kita dapat menemukan orang yang tidak mengerti tata cara bergaul dengan baik, tidak tahu bagaimana menyapa orang terhormat. Setan sering kali datang berbisik: “Engkau dilecehkan oleh orang ini padahal engkau begini dan begitu,” sambil menyebut sekian banyak keistimewaan dan kedudukan yang dilecehkan. Nah, di sinilah tempatnya pesan pertama ini.

Kedua, perintahkan ma’ruf, yakni sesuatu yang telah dikenal baik oleh masyarakat atau budaya, lagi sesuai dengan tuntunan agama, yakni budaya positif masyarakat. Ini yang hendaknya diperintahkan karena ia telah diakui kebaikannya. Dalam Q.S. Ali’imran ayat 104, di samping berpesan agar memerintahkan yang ma’ruf, Allah juga berpesan mengajak kepada yang baik. Sekali lagi, mengajak, bukan memerintahkan, karena boleh jadi yang baik ini belum terjangkau atau diketahui kebaikannya oleh masyarakat luas.

Ketiga, berpalinglah dari orang-orang jahil/picik, yakni jangan layani kejahilannya, jangan jawab pelecehan dan makiannya, jangan menyiram bensin di percikan api, karena itu akan menyulut kobaran yang tak terkendali. Kalau ada yang memakimu, katakan padanya: ”Jika makianmu benar, semoga Allah Mengampuniku dan jika salah, maka semoga Allah mengampunimu.” Atau katakan kepadanya: “Jika engkau memakiku dengan sepuluh makian, engkau tidak akan medengar dariku walau satu makian,” begitu dua pesan dari orang bijak.
Tiga pesan yang dikemukakan ayat di atas merupakan dasar pokok dalam membina hubungan harmonis dengan sesama manusia dan ketiganya adalah gambaran dan akhlak luhur yang mestinya menghiasi setiap manusia.

Manusia dianugerahi Allah potensi positif dan negatif. Jika potensi positifnya disentuh, terbuka kemungkinan besar terelakkannya dampak potensi negatif. Demikian juga sebaliknya. Karena itu, sementara pakar berpendapat bahwa: Bersama benci terpendam benih benci. Karena itu, al-Qur’an menegaskan sambil berpesan: Tidaklah sama kebaikan dan tidak (juga) kejahatan. Tolaklah (keburukan) dengan yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan (akan beralih sikapnya sehingga) seolah-olah dia teman yang sangat setia (Q.S. ayat Fushshilat 34).

Ketika menafsikan ayat di atas, dalam Tafsir al-Mishbah penulis antara lain mengemukakan salah satu maknanya, yaitu: Tidak sama peringkatnya kebajikan dan pelakunya.

Ada kebajikan yang sangat baik, seperti memaafkan sekaligus berbuat baik kepada yang bersalah. Ada juga yang hanya baik, seperti sekedar memaafkan, tanpa berbuat baik. Demikian juga dengan kejahatan. Ada yang mencapai puncaknya, yaitu syirik yang tidak dapat terhapus, kecuali dengan ketulusan bertaubat. Ada juga yang tingkatnya hanya dosa kecil serta dapat dihapus Allah dengan berwudhu’ dan shalat. Ada keburukan yang hanya dipendam di hati, ada juga yang dicetuskan dengan kata-kata, dan ada lagi yang di sertai dengan gerakan tangan, seperti memukul atau memerangi.

Nah, ayat di atas memerintahkan untuk membahas keburukan dengan yang lebih baik, bukan sekadar yang baik. Tunjukkanlah kebaikan kepada yang bermaksud buruk terhadap Anda. Sampaikan “salam” Anda, bahkan hadiah tanda persahabatan. Atau kata sementara orang, “Gunting lidahnya dan belenggu tangannya dengan hadiah Anda.”

Itu yang dianjurkan untuk dilakukan selama yang dihadapi manusia bukan setan karena setan adalah musuh abadi manusia. Jika pesan ayat ini dilakukan, lawan yang tadinya dihadapi insya Allah akan luluh hatinya sehingga kebenciannya mereda, bahkan beralih menjadi keharmonisan. Ini sungguh banyak terjadi dan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

sumber berita : Klik Disini

Leave Your Comment