Ramadan yang Membakar

Ramadan yang Membakar

Tuesday, May 30, 2017 MQS CORNER
Ramadan terambil dari akar kata yang berarti "membakar". Penamaannya demikian karena ketika terjadi perubahan nama-nama bulan, yang kemudian dikenal dengan nama Hijriah, penduduk Mekkah menamai bulan-bulan sesuai dengan suasana iklim yang mereka alami ketika itu atau tradisi yang mereka lakukan.

Misalnya, Muharram yang berarti "diharamkan" karena masyarakat Arab ketika itu mengharamkan pertumpahan darah. Shafar yang berarti "kosong" (0) karena ketika itu penduduk Mekkah, khususnya kaum pria, meninggalkan Mekkah (sehingga) kota seakan kosong tak berpenghuni atau pergi berperang sehingga Mekkah kosong tak berpenghuni atau yang berakibat hilang dan kosongnya kepemilikan harta dan jiwa akibat perang.

Rabi’al-Awwal dan Rabi’al-Akhir, yakni "musim bunga pertama" dan "musim bunga kedua", karena terjadi di musim dingin ketika suhu udara sedemikian dingin sehingga air sampai membeku. Rajab atau "pangagungan" karena bulan ini adalah salah satu bulan yang diagungkan sehingga terlarang melakukan peperangan. Selanjutnya, Sya’ban yang berarti "keterpencaran" karena pada bulan ini mereka bepencar di aneka penjuru untuk berperang dan mencari rezeki setelah bulan sebelumnya tiada perang. Dzu al-Qa’idah, yakni bulan ketika mereka harus duduk tidak berpergian untuk berperang. Dzu al-Hijjah karena pada bulan ini ibadah haji mereka laksanakan.

Ramadhan, seperti yang dikemukakan di atas, berarti membakar karena ketika itu suhu udara demikian panas dan membara. Lalu Syawwal, yang antara lain menujukan penampakan bintang tertentu di tempat yang tinggi/langit atau karena unta-unta mengangkat ekor-ekornya dan meninggi/menjadi banyak air susunya.

Nama-nama tersebut dilestarikan Islam karena tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama walaupun nama-nama tersebut kemudian diberi kesan yang lebih dalam serta lebih sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya: Ramadan, yakni bulan yang membakar panasnya, mengesankan bahwa siapa yang menyambut bulan Ramadan dengan benar dan antusias, maka akan pupus, habis terbakar dosa-dosanya.

Kesan ini sejalan dengan sabda Rasul SAW:

Siapa yang berpuasa Ramadhan didorong oleh keimanan dan dilaksanakan dengan keikhlasan, maka diampuni dosanya yang terdahulu (HARI. Bukhari dan Muslim).

Syawwal, yang mengandung makna meninggi dan banyak, memberi kesan bahwa setelah bulan Ramadan, ketika hati dan pikiran ditempa dengan berbagai kedekatan kepada Allah, maka aneka kebajikan seseorang akan terus meningkat, meninggi, dan menjadi lebih banyak.

Kehadiran Ramadan dilukiskan juga oleh Rasul SAW. dengan sabdanya:

“Kalau (bulan) Ramadan tiba, pintu-pintu surga terbuka dengan lebar,  pintu-pintu neraka tertutup dengan rapat dan setan-setan terbelenggu (HR. Muslim).

Sementara ulama, kendati menerima dengan baik hadis tersebut dan mengakui keistimewaan Ramadan, namun mereka enggan memaknainya karena menurut mereka kandungannya berkaitan dengan hal-hal gaib yang tidak dapat terjangkau oleh nalar.

Diriwayatkan bahwa Abdullah putra Imam Ahmad bin Hanbal bertanya pada ayahnya: “Apa makna terbelenggunya setan sedang masih ada saja gangguannya di bulan Ramadan?”

Pertanyaan tersebut memang pada tempatnya. Betapa tidak, kendati kita tidak melihat setan-setan jin, namun setan-setan manusia jelas terlihat dan kejahatan pun masih sering muncul. Sementara ulama menjawab bahwa yang dimaksud dengan setan di sini bukan semua setan, tetapi tokoh-tokohnya. Jawaban ini berdasarkan kepada riwayat an-Nasa’i yang menyatakan bahwa: (Yang) dibelenggu ketika itu adalah setan-setan yang amat durhaka.

Jadi, setan-setan manusia, bahkan setan-setan kecil, bisa jadi berkeliaran dan melakukan godaan-godaan yang menyesatkan, khususnya terhadap mereka yang tidak memperhatikan tuntunan dan adab puasa. Dengan demikian, hadis di atas bermaksud menggambarkan bahwa pada bulan Ramadan ada suasana kerohanian yang dialami banyak orang sehingga ini berdampak pada berkurangnya maksiat.

Dapat juga ditambahkan bahwa sebagian maksiat yang terjadi tidak disebabkan oleh ulah setan, akan tetapi oleh nafsu manusia. Memang godaan setan berbeda dengan godaan nafsu. Bagi setan, jika godaannya ditolak, ia akan datang lagi menggoda dengan rayuan lain yang bisa jadi lebih ringan dosanya daripada dosa yang ia tawarkan sebelumnya. Demikian seterusnya, menurun dan menurun sampai pada tingkat menghalangi manusia berbuat baik karena yang penting bagi setan adalah merugikan manusia atau kalau tidak dapat, maka setan menghalangi manusia memperoleh keuntungan.

Inilah yang dimaksud dengan khatawat asy-syaithan (langkah-langkah setan) dan karena itu pula, setan dinamai al-Khannas (QS. An-Nas [114]:4), yakni bila rayuannya ditolak, ia akan mundur, tetapi sesaat kemudian ia akan datang lagi. Itulah ulah setan.

Sifat nafsu berbeda dengan setan. Nafsu berkeras memenuhi keinginannya, ia tidak bersedia menerima selainnya, kendati ditawari sesuatu yang melebihi keinginan itu. Nafsu bagaikan anak kecil yang menuntut sesuatu dan enggan sesuatu itu diganti dengan yang lain, apapun alasannya. Jika demikian, kedurhakaan yang tampak pada bulan Ramadan, di samping ulah setan-setan kecil, juga akibat ulah nafu-nafsu manusia yang tidak terkendali atau terdorong oleh adat istiadat yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Selain yang dikemukakan di atas, kita juga dapat memahami hadis di atas dalam pengertian lain, yakni bahwa bulan Ramadan adalah kebajikan dan bulan pelipatgandaan ganjaran. Semua orang hendaknya menyambutnya dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif. Kegiatan-kegiatan itu bagaikan menjadikan pintu-pintu surga terbuka lebar karena amal kebajikan apa pun, kendati sedikit, dapat mengantar ke surga. Pada bulan Ramadan pun mestinya tidak wajar kedurhakaan sehingga itu berarti bahwa pintu-pintu neraka tertutup rapat dan jika kedurhakaan tidak terjadi, maka salah satu penyebabnya adalah karena setan-setan terbelenggu.

Hadis ini merupakan ajakan kepada seluruh umat agar menyambut Ramadan dengan beramal saleh dan menjauhi maksiat serta mengenyahkan setan sejauh mungkin. Yang tidak mengindahkan ajakan ini tentu saja telah menutup pintu surga, membuka pintu neraka, dan melepaskan belenggu-belenggu yang merantai setan-setan.

Sekali lagi, hadis di atas dalam pemahaman ini bukan berbicara tentang kenyataan yang terjadi, tetapi kenyataan yang mesti diwujudkan. Makna ini didukung oleh pandangan sementara ulama bahwa pada hakikatnya surga dan neraka hingga kini belum diwujudkan Allah karena penghuninya belum ada. Surga dan neraka diciptakan Allah setelah kebangkitan manusia dari kuburnya (Hari Kiamat) dan setelah selesainya perhitungan masing-masing.

Satu hal yang perlu dicatat adalah suasana Ramadan yang dilukiskan oleh hadis di atas tidak boleh dijadikan dasar untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar yang dapat berdampak lebih buruk daripada munkar yang dihadapi. Jangan sampai ada tindakan dari yang tidak berkewenangan mengakibatkan terganggunya situasi aman dan damai; dan itu secara tidak langsung mengakibatkan setan-setan yang tadinya terbelenggu menjadi bebas kembali. 

Semua harus saling menghormati dan memelihara hubungan baik karena itulah salah satu bentuk kebajikan yang dikehendaki oleh Ramadan. Demikian, wa Allah A’lam.
sumber : Klik Disini
DAPATKAN KOLEKSI BUKU-BUKU M. QURAISH SHIHAB DI SINI >>>> BELI BUKU

Leave Your Comment