Merdeka Belajar: Perempuan Pendidik

Merdeka Belajar: Perempuan Pendidik

Wednesday, Mar 08, 2017 Pendidikan dan Keluarga

Menjadi pendidik perempuan, seringkali dibayangkan sebagai peran yang tradisional. Karena sebagian besar perempuan mendapat kesempatan untuk berinteraksi lebih awal dan lebih lama dengan anak, maka pembinaan generasi masa depan, menjadi bagian dari kewajiban.

Dunia pendidikan selalu membuka banyak kesempatan berkarya dan berkontribusi untuk perempuan. Sayangnya, saat kita membuka lembaran sejarah pendidikan Indonesia dan mencari teladan, ternyata tidak mudah juga menemukan keteladanan pahlawan perempuan. Padahal, banyak pesan perjuangan mereka yang patut kita ceritakan dan jadikan pelajaran.

Maria Maramis, menjadi nama legendaris karena percaya pentingnya keluarga sebagai penggerak perubahan. Keberuntungan mengenyam pendidikan tidak serta merta didapatkan, walaupun perempuan memiliki kemampuan, bila tidak didukung lingkungan. Beliau menuntut kecintaan perempuan ditunjukkan dengan menyediakan kesempatan terdidik dan terlibat di masyarakat.

Di Minahasa maupun bagian lain Indonesia, kesetaraan akses di pendidikan dasar dan menengah memang sudah membaik. Namun setelah satu abad perjuangan Maria, kita masih bisa melihat ketidaksetaraan pendidikan lanjutan. Keluarga dalam kondisi terbatas masih mempertanyakan perlunya menghabiskan uang yang pas-pasan, untuk pendidikan kejuruan dan tinggi anak perempuan.

Angka ketimpangan menjadi semakin tinggi bila kita melihat dukungan yang diberikan bagi anak perempuan di sains dan teknologi. Buat sebagian orang, pernikahan dini atau peran terbatas di rumah tangga, bukanlah pilihan tapi dipaksakan karena dianggap lebih "menguntungkan". Argumen pengembangan perempuan memang masih terjebak sekedar soal "balik modal", bukan soal hak mengembangkan potensi atau aktualisasi diri.

Rohana Kudus, terus menerus menggagas pentingnya perkembangan minat dan bakat utuh sebagai tujuan pendidikan. Pengajaran di sekolah-sekolah yang didirikannya menumbuhkan kesehatan jasmani dan rohani, akhlak dan budi pekerti. Ia juga aktif mengembangkan wawasan sebagai jurnalis, memulai percakapan tentang pentingnya perlakuan lebih baik terhadap perempuan, serta bagaimana hidup berdampingan dalam masyarakat.

Di kondisi kita saat ini, perempuan masih sangat rentan terhadap ancaman fisik maupun emosional. Di sekolah maupun di jalanan, korban kekerasan dan perisakan terbesar masih tetap perempuan. Di sisi lain, pejabat atau bahkan sesama pendidik, ada yang cenderung menyalahkan, bukan melindungi korban. Media dan institusi pendidikan, jalur yang dipilih Rohana Kudus di awal 1900-an adalah bagian penting dari ekosistem yang perlu terus menyuarakan pesan perlawanan yang relevan.

Rahmah El-Yunussiah, pejuang lain dari Sumatera Barat, menjadi contoh nyata kekuatan perempuan untuk melakukan perubahan. Membuktikan berbagai bentuk pendidikan yang menyesuaikan karakter, kodrat dan keislaman. Praktik baiknya menjadi inspirasi bagi banyak ahli, bahkan Ia memberikan konsultasi ke pendirian Kampus putri Al-Azhar Cairo di luar negeri.

Menjadi pemimpin perempuan, menuntut kemandirian. Kisah hidup Rahmah juga menjadi contoh bahwa peran ini kadang sepi dan diwarnai konflik kepentingan. Faktanya, di pendidikan Indonesia saat ini, walaupun jumlah guru dan tenaga kependidikan perempuan secara proporsi lebih besar, yang memilih dan terpilih sebagai pemimpin masih didominasi oleh laki-laki. Kontribusi seperti menulis buku pegangan kurikulum pun, masih lebih banyak dilakukan pendidik laki-laki yang belum tentu memiliki perspektif sensitif gender. Pendidik perempuan kita masih perlu terus didorong untuk meningkatkan pengaruh positif pada berbagai tingkat dan sistem pendidikan.

Sebagian besar dari kita masih ingat nama Sandiah, atau yang lebih kita kenal sebagai Ibu Kasur, melalui karya-karyanya. Beliau tak lelah mempopulerkan kreativitas, sebagai kecerdasan yang tidak semestinya dipinggirkan. Lewat tulisan dan lagu, Ia mencontohkan metode permainan menyenangkan untuk melatih aspek perkembangan dan menumbuhkan keterampilan.

Paradigma baru tapi lama ini, sampai sekarang belum sepenuhnya dihargai banyak pihak di pendidikan. Prestasi masih lebih sering didefinisikan dengan kesuksesan kompetisi mata pelajaran konvensional, tanpa menyadari bahwa literasi dan seni juga penting untuk kompetensi dan kolaborasi masa depan.

Selamat Hari Perempuan! Empat pahlawan pendidikan perempuan sudah mengawali perubahan. Semoga titik-titik lanjutan yang sedang kita usahakan barengan, bisa menjadi rangkaian keberlanjutan perjuangan. Semoga pendidikan dan perempuan selalu menjadi dua kekuatan yang mewujudkan kemerdekaan belajar. Semoga menjadi pendidik perempuan terus mengajarkan kita pentingnya keberanian dan berharganya kebersamaan.

#SemuaMuridSemuaGuru

Reference : Klik disini

Tags: Pendidikan ,

Leave Your Comment